Kalau kita lihat pemberitaan di layar TV, akhir-akhir ini ada dua fenomena yang cukup menarik untuk kita ambil hikmahnya. PEristiwa pertama tentang seorang lelaki yang menikah dengan gadis berusia 12 tahun. Banyak komentar yang kebanyakan menghujat kelakuan lelaki tersebut. Ada yang menyebut pedofilia, tidak menghargai hak anak yang masih dalam masa bermain, macam-macamlah. Sampai ada juga yang menuntut lelaki tersebut untuk menceraikan si gadis kecil yang sudah terlanjur dinikahinya. Disini saya tidak akan membahasnya dari segi setuju atau tidak setuju, juga tidak dari aspek fikihnya. Saya hanya tergelitik untuk membandingkannya dengan satu fenomena yang begitu kontrasnya.
Tentang beredarnya video dua sejoli pelajar SLTP yang sedang berhubungan layaknya suami istri. Dua pelajar SLTP yang belum menikah berhubungan suami istri. Jelas semua pihak juga setuju kalau itu menunjukan degradasi moral sebagian generasi muda bangsa ini. SEbuah fenomena yang sebenarnya bukan sekali ini saja terjadi. Tetapi Menjadi menarik karena beritanya bersamaan dengan pemberitaan pernikahan dini diatas.
Kalau anda sebagai orang tua, lebih memalukan mana antara gadis muda anda dinikahi secara resmi oleh seorang lelaki dibandingkan gadis anda melakukan zina dengan sesama remaja? Tentu anda akan memilih putri anda dinikahi secara resmi, walaupun masih 'muda'. Meskipun hasil akhirnya putri anda sama-sama dinikahi, tetapi jika diawali dengan zina tentu akan terasa lebih 'memalukan'.
Kalau kita lihat dari sisi si lelaki. Menurut anda lebih bejat mana antara lelaki yang menggauli gadis kecil di luar nikah dengan lelaki yang menikahi gadis yang masih kecil, walaupun dua-duanya sudah baligh ?? Tentu lebih tidak bertanggung jawab orang yang menggauli gadis di luar nikah.
Wallohu'alam....
"Apabila Allah menolong kamu, tidak ada yang akan sanggup mengalahkan kamu dan menghinakan kamu. Maka siapakah yang akan menolongmu setelah pertolongan Allah??Dan kepada Allahlah orang yang beriman hendaknya bertawakal."
----------------------------------------------------------------------------------------
----------------------------------------------------------------------------------------
Jumat, 31 Oktober 2008
KETIMPANGAN
Menurut anda apa sih yang dimaksud timpang?Timpang ya tidak seimbang, tidak adil. Pilih kasih terhadap teman, juga timpang,. Mengejar dunia tanpa mempedulikan akhirat juga timpang. Beribadah terus dan hanya mengharap belas kasihan orang untuk masalah rizki juga timpang. Para workaholik yang hanya mementingkan kerja tanpa mempedulikan keluarga juga timpang. Orang-orang yang hanya mengejar hak tanpa mengerjakan kewajiban juga timpang. Orang yang selalu menuntut pihak lain untuk melakukan kewajiban tapi tidak memenuhi haknya juga timpang. Termasuk pada diri sendiri.
Astaghfirullohal'adhim...Akhir-akhir ini saya termasuk orang yang timpang dan tidak adil pada diri sendiri. Memforsir diri dengan seabrek pekerjaan, tapi tidak memperhatikan hak-hak badan. Makan tidak teratur, istirahat kurang, tidak memenuhi hak otak untuk refreshing, tidak memenuhi hak qolbu untuk mendekatkan diri padaNya,....TIdak heran jika alarm tubuh ini mulai memberikan sinyal memprotes perlakuan saya pada diri sendiri.RUpanya ritme hidup saya sudah melebihi ambang toleransi tubuh ini. Maafkan aku wahai tubuhku.
Ketidakadilan itu sebenarnya sering sekali saya lakukan. Alasan saya??? Seperti biasa " lha mau bagaimana lagi, kondisi mengharuskan saya seperti itu". Seolah-olah tidak ada orang lain lagi yang mengerjakannya. Seolah-olah hanya diri ini yang berkewajiban untuk menyelesaikannya. Seolah-olah diri dan tubuh ini adalah super woman yang bisa diperlakukan semau saya...
Menjadi orang perfectionist acapkali membebani diri, mewajibkan diri untuk melakukan segalanya, kata "harus" tidak pernah lepas dari kamus hidup saya untuk target yang saya tetapkan sendiri.
Terkadang saya lupa bahwa "tidak ada yang sempurna keculai Yang Maha Sempurna". Astaghfirulloh....ampuni diri ini Robbi.
Astaghfirullohal'adhim...Akhir-akhir ini saya termasuk orang yang timpang dan tidak adil pada diri sendiri. Memforsir diri dengan seabrek pekerjaan, tapi tidak memperhatikan hak-hak badan. Makan tidak teratur, istirahat kurang, tidak memenuhi hak otak untuk refreshing, tidak memenuhi hak qolbu untuk mendekatkan diri padaNya,....TIdak heran jika alarm tubuh ini mulai memberikan sinyal memprotes perlakuan saya pada diri sendiri.RUpanya ritme hidup saya sudah melebihi ambang toleransi tubuh ini. Maafkan aku wahai tubuhku.
Ketidakadilan itu sebenarnya sering sekali saya lakukan. Alasan saya??? Seperti biasa " lha mau bagaimana lagi, kondisi mengharuskan saya seperti itu". Seolah-olah tidak ada orang lain lagi yang mengerjakannya. Seolah-olah hanya diri ini yang berkewajiban untuk menyelesaikannya. Seolah-olah diri dan tubuh ini adalah super woman yang bisa diperlakukan semau saya...
Menjadi orang perfectionist acapkali membebani diri, mewajibkan diri untuk melakukan segalanya, kata "harus" tidak pernah lepas dari kamus hidup saya untuk target yang saya tetapkan sendiri.
Terkadang saya lupa bahwa "tidak ada yang sempurna keculai Yang Maha Sempurna". Astaghfirulloh....ampuni diri ini Robbi.
Kamis, 18 September 2008
Sebait Rindu untuk Jogjaku
Jogja...
Selaksa asa pernah kusemai disana
Segala likunya tlah membawaku seperti adanya
Manusia...dengan derai tawa juga airmata
Jogjaku...
Setiap sudutmu mengukir rindu
Secuil hatiku tlah menyatu dalam adamu
Berat langkah saat takdirnya...
mengharuskan kaki kearah yang berbeda.
Jogjaku...
Nantikan aku melabuhkan rindu
dalam damai dekapmu...
Kota Satria, bulan ke-7
Selaksa asa pernah kusemai disana
Segala likunya tlah membawaku seperti adanya
Manusia...dengan derai tawa juga airmata
Jogjaku...
Setiap sudutmu mengukir rindu
Secuil hatiku tlah menyatu dalam adamu
Berat langkah saat takdirnya...
mengharuskan kaki kearah yang berbeda.
Jogjaku...
Nantikan aku melabuhkan rindu
dalam damai dekapmu...
Kota Satria, bulan ke-7
Selasa, 16 September 2008
MENJELANG "KETIKA CINTA BERTASBIH"
Malam Senin, tanggal 15 bulan ini sebuah stasiun TV swasta menyiarkan secara langsung audisi pemilihan pemeran utama Ketika Cinta Bertasbih (KCB). Dari lima pemeran utama yang berhasil terpilih, hanya satu orang yang berasal dari latar belakang artis. Alice Norin berhasil terpilih sebagai pemeran Elliana. Dalam cerita novelnya Elliana adalah seorang artis yang cukup dekat dengan tokoh utama KCB, Azzam. Sedangkan keempat pemeran utama lain yang masing-masing akan berperan sebagai Azzam, Furqon, Anna, dan Husna tidak berasal dari kalangan artis.
Sebagai konsumen yang sudah membaca cerita dalam versi novelnya, terus terang saya sedikit kecewa dengan hasil pemilihan tersebut. Tentang Alice Norin kalau dilihat dari actingnya memang paling cocok sebagai pemeran Elliana, kelihatan ngartis tapi tidak mengurangi kesan bersahabat dengan tokoh Azzam. Tentang pemeran Azzam, dari acting yang diperlihatkan nampaknya M.Azzam yang paling bagus penjiwaannya. Tetapi melihat ketawadhu'an M. Kholidi Abadil, saya bisa memahami ketika akhirnya dewan juri memilih Kholidi sebagai pemenangnya.
Yang membuat saya bertanya-tanya adalah pemeran Husna. Dalam novelnya digambarkan bahwa Husna, adik tokoh utama Azzam adalah seorang penulis buku sekaligus dosen di sebuah Universitas di Kota Solo. Dalam novelnya Kang Abik menggambarkan tokoh HUsna sebagai seorang yang cerdas, SMART tetapi dari segi fisik tidak begitu cantik. Agak gemuk, tidak begitu tinggi dan sedikit hitam. Tapi tokoh yang akan memerankannya tidak kalah cantik dengan pemeran Anna, berpostur tinggi, ramping. Hehe....Tapi apapun saya yakin dewan juri tidak asal begitu saja memilih para calon pemeran KCB ini. Apalagi disana juga ada Kang Abik, penulis novel yang bakal diangkat ke layar lebar tersebut.
Kabarnya Film Layar Lebar yang diangkat dari novel laris karya Kang Abik tersebut akan mulai proses shooting akhir tahun 2008 ini. Akankah Film KCB bakal memecahkan rekor film pendahulunya yang juga diangkat dari Novel Kang Abik: Ayat-Ayat Cinta ? Kita tunggu saja perkembangan selanjutnya.
Sebagai konsumen saya hanya berharap semoga cerita filmnya tidak memudarkan nilai yang ditawarkan dalam versi novelnya. Nilai-nilai keislaman yang kental mewarnai setiap novel Kang Abik, semoga tidak menjadi luntur saat ceritanya diangkat melalui layar lebar. JUstru sebaliknya saya berharap munculnya film KCB akan menjadi salah satu sarana membuminya Syariat Islam. Amien... Wallohua'lam.
Sebagai konsumen yang sudah membaca cerita dalam versi novelnya, terus terang saya sedikit kecewa dengan hasil pemilihan tersebut. Tentang Alice Norin kalau dilihat dari actingnya memang paling cocok sebagai pemeran Elliana, kelihatan ngartis tapi tidak mengurangi kesan bersahabat dengan tokoh Azzam. Tentang pemeran Azzam, dari acting yang diperlihatkan nampaknya M.Azzam yang paling bagus penjiwaannya. Tetapi melihat ketawadhu'an M. Kholidi Abadil, saya bisa memahami ketika akhirnya dewan juri memilih Kholidi sebagai pemenangnya.
Yang membuat saya bertanya-tanya adalah pemeran Husna. Dalam novelnya digambarkan bahwa Husna, adik tokoh utama Azzam adalah seorang penulis buku sekaligus dosen di sebuah Universitas di Kota Solo. Dalam novelnya Kang Abik menggambarkan tokoh HUsna sebagai seorang yang cerdas, SMART tetapi dari segi fisik tidak begitu cantik. Agak gemuk, tidak begitu tinggi dan sedikit hitam. Tapi tokoh yang akan memerankannya tidak kalah cantik dengan pemeran Anna, berpostur tinggi, ramping. Hehe....Tapi apapun saya yakin dewan juri tidak asal begitu saja memilih para calon pemeran KCB ini. Apalagi disana juga ada Kang Abik, penulis novel yang bakal diangkat ke layar lebar tersebut.
Kabarnya Film Layar Lebar yang diangkat dari novel laris karya Kang Abik tersebut akan mulai proses shooting akhir tahun 2008 ini. Akankah Film KCB bakal memecahkan rekor film pendahulunya yang juga diangkat dari Novel Kang Abik: Ayat-Ayat Cinta ? Kita tunggu saja perkembangan selanjutnya.
Sebagai konsumen saya hanya berharap semoga cerita filmnya tidak memudarkan nilai yang ditawarkan dalam versi novelnya. Nilai-nilai keislaman yang kental mewarnai setiap novel Kang Abik, semoga tidak menjadi luntur saat ceritanya diangkat melalui layar lebar. JUstru sebaliknya saya berharap munculnya film KCB akan menjadi salah satu sarana membuminya Syariat Islam. Amien... Wallohua'lam.
Selasa, 02 September 2008
ROMANTIC HOUSE DALAM MEMORY
Alhamdulillah...kita masih bisa berjumpa dengan bulan yang mulia, Ramadhan.Marhaban ya Ramadhan...semoga Alloh memuliakan kita.Amien..
Kisah hidup tanpa listrik kami akhirnya terlewati sudah. Kemarin sore, bertepatan dengan hari kedua Ramadhan 1429 H kami resmi pindah ke rumah baru. Subhanalloh, kami mendapat tempat yang lebih baik Insyaalloh. Walaupun aku sempat juga bermalem sendirian bergelap-gelapan. Buka puasa sendiri, makan sahur sendiri. Hiks..Ternyata kehadiran teman bisa meningkatkan selera makan lho. Bener!! Biarpun hanya makan dengan tempe goreng kalau ada temannya, tetap lebih nikmat dibandingkan dengan makan ayam atau ikan tapi sendirian. Rasanya gimana gitu..Mungkin karena ada satu bumbu yang tidak kita dapatkan saat makan sendiri, yaitu bumbu cinta..Hehehe. Pantesan saja ibuku bilang kalau ada aku di rumah makan jadi terasa enak. Mungkin karena cinta beliau yang demikian besar padaku. Subhanalloh, I love u my mom..
Oh ya dilanjutkan lagi ceritanya ya..
Alhamdulillah proses kami pindahan dimudahkan. Awalnya kami bingung dimana mencari pick up yang mau mengangkut barang-barang kami. Habis dipikr-pikir kami nggak sanggup ngangkut berdua pakai motor dalam kondisi puasa seperti ini. Bertanya sama beberapa teman yang lebih lama di Purwokerto, nggak ada yang tahu dimana mendapat pick up sewaan. Sehabis ambil motor "invetaris" dari PakWastu, kami lihat ada pick up park di depan sebuah rumah, yang tak tahunya gudang beras. Dengan gaya lugu, kami ketok aja pintunya. Alhamdulillah bapaknya baik hati. Biarpun tidak biasa disewakan, Beliau mau juga menantar kami pindahan. Apa tampak kami memelas ya?? Yang pasti ini kemudahan dari Alloh. Malahan Beliau tidak mau pasang tarif, katanya "terserah mba nya saja adanya berapa". Hehe jadi tidak enak juga nih, orangnya terlalu baik.
Semalem kami sudah tidur di rumah baru. alhamdulillah kami merasa nyaman. Walaupun daerahnya cukup sepi, maklum di perumahan. TIdak seperti di perkampungan tempat biasa kos. Kalau di perkampungan mah pagi-pagi pasti ada saja orang lewat, anak-anak berangkat sekolah, anak tetangga nangis, ibu-ibu pergi mencuci di kali. tak pernah sepi..
Semoga saja tempat yang baru ini membuat kami menjadi lebih baik, dan membawa keberkahan bagi kami. Amien. Have a nice day...
Kisah hidup tanpa listrik kami akhirnya terlewati sudah. Kemarin sore, bertepatan dengan hari kedua Ramadhan 1429 H kami resmi pindah ke rumah baru. Subhanalloh, kami mendapat tempat yang lebih baik Insyaalloh. Walaupun aku sempat juga bermalem sendirian bergelap-gelapan. Buka puasa sendiri, makan sahur sendiri. Hiks..Ternyata kehadiran teman bisa meningkatkan selera makan lho. Bener!! Biarpun hanya makan dengan tempe goreng kalau ada temannya, tetap lebih nikmat dibandingkan dengan makan ayam atau ikan tapi sendirian. Rasanya gimana gitu..Mungkin karena ada satu bumbu yang tidak kita dapatkan saat makan sendiri, yaitu bumbu cinta..Hehehe. Pantesan saja ibuku bilang kalau ada aku di rumah makan jadi terasa enak. Mungkin karena cinta beliau yang demikian besar padaku. Subhanalloh, I love u my mom..
Oh ya dilanjutkan lagi ceritanya ya..
Alhamdulillah proses kami pindahan dimudahkan. Awalnya kami bingung dimana mencari pick up yang mau mengangkut barang-barang kami. Habis dipikr-pikir kami nggak sanggup ngangkut berdua pakai motor dalam kondisi puasa seperti ini. Bertanya sama beberapa teman yang lebih lama di Purwokerto, nggak ada yang tahu dimana mendapat pick up sewaan. Sehabis ambil motor "invetaris" dari PakWastu, kami lihat ada pick up park di depan sebuah rumah, yang tak tahunya gudang beras. Dengan gaya lugu, kami ketok aja pintunya. Alhamdulillah bapaknya baik hati. Biarpun tidak biasa disewakan, Beliau mau juga menantar kami pindahan. Apa tampak kami memelas ya?? Yang pasti ini kemudahan dari Alloh. Malahan Beliau tidak mau pasang tarif, katanya "terserah mba nya saja adanya berapa". Hehe jadi tidak enak juga nih, orangnya terlalu baik.
Semalem kami sudah tidur di rumah baru. alhamdulillah kami merasa nyaman. Walaupun daerahnya cukup sepi, maklum di perumahan. TIdak seperti di perkampungan tempat biasa kos. Kalau di perkampungan mah pagi-pagi pasti ada saja orang lewat, anak-anak berangkat sekolah, anak tetangga nangis, ibu-ibu pergi mencuci di kali. tak pernah sepi..
Semoga saja tempat yang baru ini membuat kami menjadi lebih baik, dan membawa keberkahan bagi kami. Amien. Have a nice day...
Jumat, 29 Agustus 2008
CRYING DAYS...
Alhamdulillah...aku masih bisa nulis lagi di sini. Meneruskan cerita hari-hari tanpa listrik hari ini sudah menginjak hari kelima. LUAR BIASA!!!Ternyata kami bisa bertahan sampai detik ini.
Hari ketiga waktu pagi hari, seperti yang pernah kutulis dua hari yang lalu, kami masih bisa tersenyum. Dari 12 anak kost yang masih bertahan hingga hari ketiga tinggal empat orang. Dua orang perempuan di rumah induk dan dua orang laki-laki di rumah paling selatan. Oh ya aku lupa bercerita ibu kos kami memiliki tiga rumah bersebelahan, satu rumah induk dihuni kaluarga ibu kost dan tiga anak kost cewek. Sementara dua rumah dihuni anak kost cowok sebanyak 9 orang (kalau tidak salah itung, maklum tidak kenal semuanya.hehe..). Yang masih bertahan ada Sri, Pipit, Beni dan saya sendiri.
Aktivitas rutin berupa ngangkatin air dua kali sehari masih kami jalankan dengan ceria. Menginjak maghrib, gelap, cuma ada dua perempuan di rumah, mana kordennya sdh diambil ibu kostlagi. Ada satu desir yang menelisir dalam dada, nelangsa....
"Sri, aku rada takut juga nih...ada orang nggak ya di rumah sebelah (kosan sebelah-red)"ucapku. " Sudahlah..tidak apa-apa mung, we have romantic days...lihat ada lilin di setiap sudut rumah kita.."kata Sri sambil tertawa, berusaha menghibur.
Sri memang selalu tertawa dalam segala suasana, tapi tawanya yang ini jelas sekali dipaksakan. Kulihat ada genangan air juga di matanya. Aku??? Jangan ditanya, bukan cuma genangan air tapi banjir di wajahku. Hehe...Benar-benar Crying day.
"Eh ember kita yang ada gantungannya diambil anak sebelah sepertinya, kita ambil yuk! Sambil nengokin Beni, dia sendirian kasihan banget sich. Kita mending berdua, crying-crying juga ada teman buat gendu-gendu rasa"Kata Sri mencoba menetralkan suasana.
Jadilah kami ke rumah sebelah. Sebuah rumah tua yang cukup mengerikan kalau kubilang. Halaman belakang tampak tak terurus. Kayu-kayu bekas teronggok berserakan, jendela-jendelanya pun sebagian suda lepas dari engselnya. Sementara tiga buah sofa dengan pulungan lubang di badannya terduduk nelangsa di perbatasan kedua rumah. Seperti tidak ada kehidupan.Sepi, gelap. Robbi....
"assalamu'alaikum.Ben..Beni..."teriak kami dari pintu belakang. Beni yang kamarnya ada di lantai atas, sama sekali tidak ada reaksi. Kami panggil-panggil sampai lima kali, tetap sepi juga..
" Jangan-jangan pingsan itu anak, dia kan baru habis sakit"kata Sri lagi.
"Iyakah??paling takut dia, dikira halusinasi kali"kataku menimpali.
Setelah kami panggil lebih drai 10 kali barulah ada suara dari atas.
"Ada apa mba?Naik saja"Kata Beni
"Kamu kenapa dipanggil-panggil nggak nyahut? dikira halusinasi ya?"teriak Sri.Kami berdua berdiri di bawah tangga.
"Iya mba, aku kira halusinasiku saja. Aku sendirian nih, mau nemenin apa mba" kata Beni dengan suara sedikit bergetar. Rupanya dia ketakutan.Duh kasihan banget anak itu..
"Lha Pipit kemana? Tega banget sih meninggalkanmu sendirian. Sms Pipit aja, tanyain kemana dia pergi.Mbok kalian bareng saja, minimal kan ada teman ngobrol" saran Sri prihatin.
"Pipit lagi ketempat temannya. Nggak tahu pulang apa nggak. Aku juga nanti nginap saja lah tempat teman. Disini sendirian takut juga."Kata Beni. Nada suaranya terdengar sudah kembali normal.
"Iya gitu saja. Eh ember kita yang ada gagangnya disini nggak?"Tanya kami kembali
"Iya, ada di pojok. Tahu kan mba, yang biasanya."Kata Beni lagi
"Oh ya. Ya udah ya, timbang sendirian nginep tempat teman saja"Kataku, kemudian berlalu mengambil ember di kamar mandi pojok.
Sejam kemudian terdengar suara motor Beni yang egrek-egrek (maaf ya Ben, bukan maksud kami menghina motormu), terdengar keluar kosan.
"Syukurlah anak itu sudah pergi. Kasihan banget dia ketakutan."Kata Sri mengomentari.
"Haha...Lucu juga ya kita? Sambil crying-crying mengasihani diri sendiri, ternyata masih bisa juga kasihan dengan orang lain"Ucapku sembari tertawa kecut.
Belum ada 60 menit, Beni keluar, terdengar suara mesin motor yang cukup merdu. Dari suaranya ini pasti motor Pipit. Maklum diantara motor anak kost Belsam, motor Pipitlah yang kondisinya paling "prima".
"Kasihan banget Pipit sama Beni, keslisiban terus." kataku.
"Iya heran tuh anak-anak cowok, mbok ya bareng-bareng. masa kondisi seperti ini tidak merasa senasib sepenanggungan."jawab Sri
Hari ketiga itu kita tutup jam sepuluh malam. Dengan sisa air mata kami tertidur juga akhirnya.
Hari Keempat...
Jam enam pagi kami sudah sibuk nimba. Sumur kami terletak 1,5 meter dari pintu dapur. Alhamdulillah..jadi ngangkat air kekamar mandinya tidak begitu jauh. Keasyikan kami nimba, terhenti sejenak saat ada motor lewat. Wawan pulang sepagi ini.Kami menduga dia nginap tempat temannya. Selain Pipit dan Beni yang bertahan di kosan Belsam ini adalah Wawan. Tapi dia nggak pernah nginap di sini. Paling pulang bentar ambil barang keperluan terus pergi lagi. Sssttt...diantara anak Belsam dia yang paling rajin ke Masjid lho. Kabarnya sih dia aktivis tulen.
Aktivitas selanjutnya, seperti biasa. Aku persiapan ke kantor, sementara Sri berencana menghabiskan pagi dengan nongkrong di perpus.
Siangnya aku dan Sri menyempatkan diri ke Gerai Esia, beli pulsa sekalian numpang ngecharge. Pulangnya kami jalan-jalan dulu sekalian mencari keranjang buat ngepak barang. Rencananya hari minggu atau senin kami akan pindahan ke rumah baru.
Malam harinya kami habiskan dengan keluar makan malam, biasa menikmati gorengan anget plus ketupat di warung burjo ibunya Angga. Sebelumnya kami sempatkan main ke rumah baru ibu kost Belsam. Sambutannya??
"Sri ngapain ke sini lagi...?"Ibu kos tercinta, tega sekali dikau berkata begitu pada orang yang telah didholimi ini. Kemarin memang kami sudah main, menyambung silaturahim. Paling tidak mencegah benih-benih sakit hati di hati kami. Tapi ternyata sambutannya membuat kami makin nelangsa. Boro-boro minta maaf, prihatin juga enggak. Menghilangkan nafsu makan kami saja.Alloh tertutup apakah mata hatinya?
Hari ketiga waktu pagi hari, seperti yang pernah kutulis dua hari yang lalu, kami masih bisa tersenyum. Dari 12 anak kost yang masih bertahan hingga hari ketiga tinggal empat orang. Dua orang perempuan di rumah induk dan dua orang laki-laki di rumah paling selatan. Oh ya aku lupa bercerita ibu kos kami memiliki tiga rumah bersebelahan, satu rumah induk dihuni kaluarga ibu kost dan tiga anak kost cewek. Sementara dua rumah dihuni anak kost cowok sebanyak 9 orang (kalau tidak salah itung, maklum tidak kenal semuanya.hehe..). Yang masih bertahan ada Sri, Pipit, Beni dan saya sendiri.
Aktivitas rutin berupa ngangkatin air dua kali sehari masih kami jalankan dengan ceria. Menginjak maghrib, gelap, cuma ada dua perempuan di rumah, mana kordennya sdh diambil ibu kostlagi. Ada satu desir yang menelisir dalam dada, nelangsa....
"Sri, aku rada takut juga nih...ada orang nggak ya di rumah sebelah (kosan sebelah-red)"ucapku. " Sudahlah..tidak apa-apa mung, we have romantic days...lihat ada lilin di setiap sudut rumah kita.."kata Sri sambil tertawa, berusaha menghibur.
Sri memang selalu tertawa dalam segala suasana, tapi tawanya yang ini jelas sekali dipaksakan. Kulihat ada genangan air juga di matanya. Aku??? Jangan ditanya, bukan cuma genangan air tapi banjir di wajahku. Hehe...Benar-benar Crying day.
"Eh ember kita yang ada gantungannya diambil anak sebelah sepertinya, kita ambil yuk! Sambil nengokin Beni, dia sendirian kasihan banget sich. Kita mending berdua, crying-crying juga ada teman buat gendu-gendu rasa"Kata Sri mencoba menetralkan suasana.
Jadilah kami ke rumah sebelah. Sebuah rumah tua yang cukup mengerikan kalau kubilang. Halaman belakang tampak tak terurus. Kayu-kayu bekas teronggok berserakan, jendela-jendelanya pun sebagian suda lepas dari engselnya. Sementara tiga buah sofa dengan pulungan lubang di badannya terduduk nelangsa di perbatasan kedua rumah. Seperti tidak ada kehidupan.Sepi, gelap. Robbi....
"assalamu'alaikum.Ben..Beni..."teriak kami dari pintu belakang. Beni yang kamarnya ada di lantai atas, sama sekali tidak ada reaksi. Kami panggil-panggil sampai lima kali, tetap sepi juga..
" Jangan-jangan pingsan itu anak, dia kan baru habis sakit"kata Sri lagi.
"Iyakah??paling takut dia, dikira halusinasi kali"kataku menimpali.
Setelah kami panggil lebih drai 10 kali barulah ada suara dari atas.
"Ada apa mba?Naik saja"Kata Beni
"Kamu kenapa dipanggil-panggil nggak nyahut? dikira halusinasi ya?"teriak Sri.Kami berdua berdiri di bawah tangga.
"Iya mba, aku kira halusinasiku saja. Aku sendirian nih, mau nemenin apa mba" kata Beni dengan suara sedikit bergetar. Rupanya dia ketakutan.Duh kasihan banget anak itu..
"Lha Pipit kemana? Tega banget sih meninggalkanmu sendirian. Sms Pipit aja, tanyain kemana dia pergi.Mbok kalian bareng saja, minimal kan ada teman ngobrol" saran Sri prihatin.
"Pipit lagi ketempat temannya. Nggak tahu pulang apa nggak. Aku juga nanti nginap saja lah tempat teman. Disini sendirian takut juga."Kata Beni. Nada suaranya terdengar sudah kembali normal.
"Iya gitu saja. Eh ember kita yang ada gagangnya disini nggak?"Tanya kami kembali
"Iya, ada di pojok. Tahu kan mba, yang biasanya."Kata Beni lagi
"Oh ya. Ya udah ya, timbang sendirian nginep tempat teman saja"Kataku, kemudian berlalu mengambil ember di kamar mandi pojok.
Sejam kemudian terdengar suara motor Beni yang egrek-egrek (maaf ya Ben, bukan maksud kami menghina motormu), terdengar keluar kosan.
"Syukurlah anak itu sudah pergi. Kasihan banget dia ketakutan."Kata Sri mengomentari.
"Haha...Lucu juga ya kita? Sambil crying-crying mengasihani diri sendiri, ternyata masih bisa juga kasihan dengan orang lain"Ucapku sembari tertawa kecut.
Belum ada 60 menit, Beni keluar, terdengar suara mesin motor yang cukup merdu. Dari suaranya ini pasti motor Pipit. Maklum diantara motor anak kost Belsam, motor Pipitlah yang kondisinya paling "prima".
"Kasihan banget Pipit sama Beni, keslisiban terus." kataku.
"Iya heran tuh anak-anak cowok, mbok ya bareng-bareng. masa kondisi seperti ini tidak merasa senasib sepenanggungan."jawab Sri
Hari ketiga itu kita tutup jam sepuluh malam. Dengan sisa air mata kami tertidur juga akhirnya.
Hari Keempat...
Jam enam pagi kami sudah sibuk nimba. Sumur kami terletak 1,5 meter dari pintu dapur. Alhamdulillah..jadi ngangkat air kekamar mandinya tidak begitu jauh. Keasyikan kami nimba, terhenti sejenak saat ada motor lewat. Wawan pulang sepagi ini.Kami menduga dia nginap tempat temannya. Selain Pipit dan Beni yang bertahan di kosan Belsam ini adalah Wawan. Tapi dia nggak pernah nginap di sini. Paling pulang bentar ambil barang keperluan terus pergi lagi. Sssttt...diantara anak Belsam dia yang paling rajin ke Masjid lho. Kabarnya sih dia aktivis tulen.
Aktivitas selanjutnya, seperti biasa. Aku persiapan ke kantor, sementara Sri berencana menghabiskan pagi dengan nongkrong di perpus.
Siangnya aku dan Sri menyempatkan diri ke Gerai Esia, beli pulsa sekalian numpang ngecharge. Pulangnya kami jalan-jalan dulu sekalian mencari keranjang buat ngepak barang. Rencananya hari minggu atau senin kami akan pindahan ke rumah baru.
Malam harinya kami habiskan dengan keluar makan malam, biasa menikmati gorengan anget plus ketupat di warung burjo ibunya Angga. Sebelumnya kami sempatkan main ke rumah baru ibu kost Belsam. Sambutannya??
"Sri ngapain ke sini lagi...?"Ibu kos tercinta, tega sekali dikau berkata begitu pada orang yang telah didholimi ini. Kemarin memang kami sudah main, menyambung silaturahim. Paling tidak mencegah benih-benih sakit hati di hati kami. Tapi ternyata sambutannya membuat kami makin nelangsa. Boro-boro minta maaf, prihatin juga enggak. Menghilangkan nafsu makan kami saja.Alloh tertutup apakah mata hatinya?
Selesai makan malam, kami pergi jalan-jalan ke sekitar kampus. Sekedar mengurangi nelangsa...
Pulang jalan-jalan sudah jam sembilan malam. Rencananya kami akan segera tidur. Tapi ternyata kami malah ngobroll sampai jam 12 malam. Ngobrolin kondisi kami, masa kecil kami, cita-cita kami. Semuanya..
Malam itu kami bener-bener rindu dengan suara-suara kehidupan. Suara Adi nyanyi di kamar mandi, anak-anak sebelah gitaran di teras belakang. Merindukan suara motor lewat bahkan. Suara motor Pipit yang paling merdu,muluss. Suara motor Beni yang egrek-egrek(hehe), suara motor Arif yang berisik bukan main, suara motor Adi yang paling tidak khas, suara motor Wawan yang selalu membuat kami bersembunyi, menyingkir. Kalau ditanya mengapa, aku tak tahu. Pekewuh saja kali. Terus terang hampir tujuh bulan bersebelahan, belum pernah tuh bertegur sapa sama Wawan.Yang paling sering ya sama Adi, soalnya dia yang paling sering bertandang ke rumah induk. Yang paling sering ngambil makanan waktu kami masak, tanpa permisi tentu saja. Paling kalau sudah masuk mulut, ketawa-ketawa. Memang lucu anak itu.
Akhirnya kami menyudahi obrolan malam itu. Kalau gak ingat besok harus kerja, mungkin kami akan ngobrol sampai subuh deh.
Bagaimana cerita hari-hari berikutnya?Nantikan saja kelanjutannya. Aku mau searching dulu buat bahan ngoceh di depan anak-anak. Babay...
Rabu, 27 Agustus 2008
HARI-HARI TANPA LISTRIK....
Pernahkah Anda mengalami hidup tanpa listrik ?? Di abad dua satu ini di sebuah kota kecil Purwokerto kami hidup tanpa listrik. What??? Hehe...bukan seluruh Purwokerto, tepatnya tempat kost kami. Tragis sekali harus bergelap-gelap ria, gara-gara ibu kost enggan melunasi tagihan listrik. hiks..hiks
Hari pertama kami masih bisa tertawa melihat kondisi kami. Mencoba ber-positif thinking.
"Kita harus bersyukur dengan apa yang terjadi pada kita. Masih untung listrik mati tapi bisa ambil air dari sumur. bayangkan orang-orang di gunung kidul sana harus berjalan puluhan kilo demi mendapat air. Itu pun tidak gratis. Kadang harus menjual sapi demi mendapat sejeligen air". Itu kata-kata yang kuucapkan untuk menghibur teman-teman yang mulai menggerundel.
Pagi-pagi bangun langsung menyingsingkan lengan baju, ambil ember sama timba. Biar ndak bosen ya sambil nyanyi-nyanyi. Lumayan, anggap saja olaraga angkat berat. Hehe...
Hari kedua pun tiba...alhamdulillah masih bisa tersenyum. Tapi terenyuh juga melihat tatapan kasihan para tetangga. Hiks..apalagi melihat ketidakpedulian ibu kost. Oh My God..Ternyata ikhlas itu tidak mudah. Pegel-pegel di bahu, lengan sama kaki karena ngangkat air pagi dan sore semakin menambah grundelan di hati. Belum lagi kalau malam tiba 'rumah kami' gelap gulita, sementara tetangga sekitar benderang oleh cahaya lampu. Air mata mulai mengintip di pelupuk mata.
Kalimat yang diucapkan pun mulai sedikit berbeda. Merasa di dholimi! ASLI. Bagaimana tidak kami kan bayar kost sama listrik sampai akhir bulan. Artinya kami masih berhak atas fasilitas sampai satu minggu ke depan.
"Ya sudah sekarang banyak-banyaklah berdoa untuk kebaikan. Doa orang yang terdholimi makbul, insyaalloh..." Ucapan kami untuk saling menghibur hati yang mulai nelangsa.
" Bakar saja sekalian yo mba.." Itu ucapan putus asa seorang Pipit. Aku paham bagaimana kecewanya. Bayangkan di hari wisudanya, harus tidur dalam gelap, tengah malam ngangkatin air demi bisa mandi pagi-pagi buta. Wisuda Kelabu, kami menyebutnya.
Hari ketiga....alhamdulillah kami masih hidup. Hehe...Bagaimana kondisi kami??Masih tanpa listrik!! Tunggu saja kelanjutan ceritanya...
Robbana...ajari kami makna sabar, ajari kami bersikap ikhlas...
Sabar yo nduk...Orang yang sabar disayang Alloh. Kata Orang bijak: sing sopo nrimo bakale ketrimo, sing sopo ngalah bakale berkah..
Ikhlaskan ya nduk...Insyaalloh kalau ikhlas kita akan mendapat yang pengganti yang lebih baik. Amien...
Hari pertama kami masih bisa tertawa melihat kondisi kami. Mencoba ber-positif thinking.
"Kita harus bersyukur dengan apa yang terjadi pada kita. Masih untung listrik mati tapi bisa ambil air dari sumur. bayangkan orang-orang di gunung kidul sana harus berjalan puluhan kilo demi mendapat air. Itu pun tidak gratis. Kadang harus menjual sapi demi mendapat sejeligen air". Itu kata-kata yang kuucapkan untuk menghibur teman-teman yang mulai menggerundel.
Pagi-pagi bangun langsung menyingsingkan lengan baju, ambil ember sama timba. Biar ndak bosen ya sambil nyanyi-nyanyi. Lumayan, anggap saja olaraga angkat berat. Hehe...
Hari kedua pun tiba...alhamdulillah masih bisa tersenyum. Tapi terenyuh juga melihat tatapan kasihan para tetangga. Hiks..apalagi melihat ketidakpedulian ibu kost. Oh My God..Ternyata ikhlas itu tidak mudah. Pegel-pegel di bahu, lengan sama kaki karena ngangkat air pagi dan sore semakin menambah grundelan di hati. Belum lagi kalau malam tiba 'rumah kami' gelap gulita, sementara tetangga sekitar benderang oleh cahaya lampu. Air mata mulai mengintip di pelupuk mata.
Kalimat yang diucapkan pun mulai sedikit berbeda. Merasa di dholimi! ASLI. Bagaimana tidak kami kan bayar kost sama listrik sampai akhir bulan. Artinya kami masih berhak atas fasilitas sampai satu minggu ke depan.
"Ya sudah sekarang banyak-banyaklah berdoa untuk kebaikan. Doa orang yang terdholimi makbul, insyaalloh..." Ucapan kami untuk saling menghibur hati yang mulai nelangsa.
" Bakar saja sekalian yo mba.." Itu ucapan putus asa seorang Pipit. Aku paham bagaimana kecewanya. Bayangkan di hari wisudanya, harus tidur dalam gelap, tengah malam ngangkatin air demi bisa mandi pagi-pagi buta. Wisuda Kelabu, kami menyebutnya.
Hari ketiga....alhamdulillah kami masih hidup. Hehe...Bagaimana kondisi kami??Masih tanpa listrik!! Tunggu saja kelanjutan ceritanya...
Robbana...ajari kami makna sabar, ajari kami bersikap ikhlas...
Sabar yo nduk...Orang yang sabar disayang Alloh. Kata Orang bijak: sing sopo nrimo bakale ketrimo, sing sopo ngalah bakale berkah..
Ikhlaskan ya nduk...Insyaalloh kalau ikhlas kita akan mendapat yang pengganti yang lebih baik. Amien...
Langganan:
Postingan (Atom)