Sebuah acara di stasiun radio swasta di Jogja pernah membahas tema tersebut dalam acara pembahasan pra dan pasca nikah beberapa tahun yang lalu, saat aku masih menjalani tahap profesiku. Kalau nggak salah ingat yang mengisi Kang Iip Wijayanto-ustadz cinta kata teman-temanku. Dalam acara tersebut pembicaraan lebih difokuskan pada bahasa cinta dalam rumah tangga.
Setiap orang memiliki bahasa cinta yang berbeda-beda. Otomatis ungkapan cinta yang diharapkannya juga berbeda antara orang satu dengan orang yang lain. Hadiah yang mahal, adalah hadiah yang cocok untuk orang yang bahasa cintanya bernilai materi. Bunga atau sebait puisi mungkin lebih cocok untuk orang dengan bahasa cinta romantis. Dilayani sepanjang hari- dari makan, mandi sampai mau tidur lagi-adalah bahasa cinta paling disuka oleh orang dengan bahasa cinta pelayanan. Sebaliknya orang yang bahasa cintanya kebersamaan yang paling diharapkannya adalah mengerjakan segala sesuatu selalu bersama-sama. Tapi bagi orang dengan bahasa cinta dukungan, kata-kata supportif adalah bahasa cinta yang akan membuatnya sanggup menghadapi apapun. Begitu kira-kira yang beliau sampaikan.
Seiring berjalannya waktu, berbagai pengalaman hidup dan cerita-cerita kehidupan orang-orang disekitarku mengajarkan banyak hal tentang kehidupan dan kebijaksanaan. Dan ternyata pengetahuan bahasa cinta juga sangat membantu dalam kehidupan sehari-hari, tidak hanya dalam dunia rumah tangga seperti yang dahulu dibahas Kang Iip. Bayangkan saja maunya sih, bikin kejutan di hari istimewa seorang teman yang sudah lama tidak berjumpa. Kita pikir hadiah mahal kita akan membuatnya berbinar dengan cahaya girang. Sebaliknya, teman tersebut malah membayangkan akan ada kartu ucapan cantik, dengan kata-kata indah penuh barakah doa. Jika keduanya tidak memahami bahasa cinta, wah bisa gak nyaman tuh hari istimewanya.
Itu tentang persahabatan. Tapi yang lebih menyentuh adalah bahasa cinta Sang Pencipta kita.
Ada kisah yang bagiku mengajarkan begitu banyak pelajaran, disamping cerita hidupku sendiri. Enam tahun yang lalu saat dia mau masuk kuliah, yang kukenal adalah sesosok cengeng, manja, dan tidak tahan dengan yang namanya cobaan. Maklum semenjak kecilnya terbiasa dengan yang namanya ada, ada dan ada-bahkan cenderung dimanja. Istilahku-'tidak tahan banting' lah, walaupun ia terlahir sebagai anak pertama. Akan tetapi Alloh punya kehendak lain rupanya. Belum genap satu semester kuliah, ayahnya sebagai tulang punggung keluarga meninggal dunia setelah sebelumnya terserang kanker kolon. Harta benda sudah habis untuk pengobatan ayahnya. Ibunya seorang diri sudah tentu terseok-seok menanggung dua orang anak yang "baru mengenal dunia". Tetapi ternyata apa yang menimpanya adalah sebuah madrasah pendewasaan yang tiada ternilai harganya. Dia sendiri juga mengakui akan hal itu. Sosok yang dulu sering menangis di kosan saat tidak ada yang menemaninya mengerjakan tugas, yang memilih untuk tidak makan daripada harus beli makan sendirian (padahal warung makan hanya berjarak lima rumah dari kosan), sekarang sudah berbeda lho. Kedewasaan dan kebijaksanaanya jauh melampaui teman-temannya yang jalan hidupnya biasa-biasa saja. Subhanalloh...Jadi ingat dengan salah satu ayat cinta-Nya:
"....boleh jadi kalian menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, boleh jadi juga kalian membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu. Alloh lebih mengetahui sedang kamu tidak mengetahui."
Itulah bahasa cinta. Bagaimanapun pencipta kita tentu paling memahami bahasa cinta dari masing-masing makhluknya. Cobaan bisa jadi mengenalkan kita pada orang yang menjadi jalan kita mengenal cinta-Nya. Karena mungkin menurut Alloh itulah cara paling tepat bagi kita untuk mengenal cinta-Nya. Dan kalau kita sering melihat jalan hidup teman kita kok enak-enak saja, berbeda dengan jalan hidup kita ? Ya berarti memang bahasa cinta kita berbeda dengan dia. So Alloh juga akan memperlakukan kita dengan bahasa yang berbeda. Walaupun intinya sama-Ia mencintai kita.
Sebuah kalimat bijak sempat kusarikan dari bukunya Irfan Toni Herlambang dalam karyanya "Kekuatan Cinta". Kata motivator untuk anda yang merasa sedang mendapat cobaan, atau ketika kenyataan tidak sesuai dengan yang kita rencanakan.
" Ketika Alloh membentuk kita, tidaklah menyenangkan. Sakit dan banyak air mata. Tapi itu adalah cara untuk merubah kita agar memancarkan kemuliaan-Nya. Anggaplah kebahagiaan jika kamu diberi cobaan. Karena ujian menghasilkan ketekunan. Dan biarkan ketekunan itu menjadikan kamu sempurna, utuh dan berkecukupan..."
Percayalah tidak ada yang sia-sia dalam setiap ciptaan-Nya. Perjalanan hidup kita adalah mahakarya sempurna yang dirancang dengan begitu sempurna oleh Sang Maha Sempurna. Hikmah selalu ada jika kita mau menyadarinya. Wallohua'lam....
"Apabila Allah menolong kamu, tidak ada yang akan sanggup mengalahkan kamu dan menghinakan kamu. Maka siapakah yang akan menolongmu setelah pertolongan Allah??Dan kepada Allahlah orang yang beriman hendaknya bertawakal."
----------------------------------------------------------------------------------------
----------------------------------------------------------------------------------------
Kamis, 03 April 2008
Senin, 10 Maret 2008
TENTANG AYAT-AYAT CINTA
TENTANG AYAT-AYAT CINTA
Oleh: Mursiyam
"Sudah nonton ayat-ayat cinta?" Mungkin anda sudah sering mendapat lontaran pertanyaan seperti itu. Entah ketemu dikampus, diantara kuliah, di mall, sms-an, telpon, chatting sampai email selalu pertanyaan tersebut bisa meramaikan obrolan. Bahkan kekakuan antara dua orang yang sudah 10 tahun tidak bertemu cair seketika dengan tiga kata "ayat-ayat cinta"!!! Ruarrr biasa!!!???
Perkenalan Saya dengan Ayat-Ayat Cinta
Tahun 2006 lalu awal saya mengenal karya laris dari Habibburahman tersebut. Seorang teman kelompok komunitas sukses mempromosikannya pada kami. Alhasil novel tersebut menjadi bacaan bergiliran diantara kami berlima. Saya sendiri berhasil menyelesaikan membaca novel setebal lebih dari 400 halaman tersebut dalam waktu kurang dari 24 jam. Sebuah prestasi yang belum pernah mampu saya terapkan pada buku-buku pelajaran, bahkan sampai sekarang.
Suasana perbukitan Karangasem nun di Imogiri sana menambah nikmat alunan cerita novel "ayat-ayat cinta". Bagian paling berkesan bagi saya disamping idealisme seorang Fachri adalah pertemuan pertama Fachri dengan Aisha di Kereta. Diceritakan bahwa orang-orang dalam kereta begitu benci dengan orang Amerika yang kebetulan juga naik kereta tersebut. Tetapi begitu mereka diingatkan dengan kebenaran dari Quran dan Sunnah tentang bagaimana seharusnya bersikap kepada non muslim, mereka langsung bersikap lunak. Subhanalloh... indahnya kehidupan seorang muslim.
Adapun versi filmnya saya baru nonton seminggu yang lalu, saat saya sudah tinggal di Kota Satria. Empat orang teman yang nonton bareng saya sepakat bilang "kurang menggigit". Kalau saya, kesan yang tertangkap adalah terdapat perbedaan makna antara "ayat-ayat cinta" yang dimaksud dalam versi film dengan "ayat-ayat cinta" dalam versi novel. Cinta dalam versi filmnya terkesan hanya sebatas cinta Maria, Aisha, Nurul, Nouro kepada seorang lelaki bernama Fachri. Atau mungkin lebih tepat perjalanan cinta seorang Fachri.
Sementara dari novelnya saya melihat yang dimaksud "ayat-ayat cinta" (AAC), tidak sebatas cinta antar manusia. Ada kecintaan pada ilmu, kecintaan pada Alloh yang mengantarkan seorang Fachri memenuhi komitmen menikahi Aisha-wanita yang baru dikenal- ditengah kebimbangan karena Nurul-wanita yang selama ini didamba- meminang melalui sang Paman beberapa saat sebelum akad. Ada lagi cerita luluhnya hati orang-orang di kereta dengan kebenaran Al-quran dan Sunnah. Habibburahman menutup novelnya dengan cerita yang begitu menggetarkan jiwa, mimpi Maria bertemu dengan Maryam yang mengantarkannya pada dua kalimat Shahadat. Subhanalloh...cinta Sang Pemilik Cinta Sumber Segala Cinta.
Satu hal lagi film tersebut tidak jauh berbeda dengan film dan sinetron Indonesia pada umumnya. Pernah melihat sinetron pasang infus abocathnya terbalik??? Berapa sinetron yang menceritakan tokohnya mengalami amnesia dengan penyebab yang kadang tidak jelas??? Sekilas itu sepele tapi bagi orang-orang yang tahu betul bidang-bidang tersebut, hal itu bisa menjadi bahan lelucon yang tidak lucu.
Dari beberapa sisi versi film AAC memang harus saya akui punya kelebihan yang tidak dimiliki oleh para pendahulunya. Minimal memperkenalkan film dengan latar belakang Islam kepada khalayak yang saya yakin tidak hanya orang Islam saja yang menontonnya. Itu adalah sisi positif yang harus selalu ditingkatkan ke depannya.
Saya berharap sinetron dan film Indonesia menjadi lebih baik dan lebih baik lagi ke depannya. Jadi yang dipaparkan seperti aslinya tidak hanya kehidupan diskotiknya saja tetapi sisi profesi yang ada dalam cerita juga seyogyanya bisa dipaparkan sesuai yang terjadi dalam alam nyata. Terlebih lagi untuk cerita yang diambil dari cerpen atau novel, penggarapannya tentu harus lebih hati-hati lagi. Bagaimanapun juga pemirsa akan membandingkannya dengan cerita aslinya.
Anda penggemar "ayat-ayat cinta?" Saya pikir belum lengkap jika anda belum membaca versi novelnya. Ini bukan iklan lho, karena untuk membaca kan tidak harus beli. Bisa pinjam juga kan?? Wallohua'lam...
Minggu, 09 Maret 2008
RENTANG RESPON PSIKOFISIOLOGIS
RENTANG RESPON PSIKOFISIOLOGI
DILIHAT DARI MODEL STRESS ADAPTASI STUART
DILIHAT DARI MODEL STRESS ADAPTASI STUART
Oleh: Mursiyam
A.PENGERTIAN
STRESS
· Reaksi individu terhadap situasi yang menimbulkan tekanan/ancaman
· Ketidakseimbangan akibat stresor
· Respon non spesifik dari tubuh terhadap tuntutan yang dilakukan tubuh
STRESSOR
Yaitu semua faktor yang menimbulkan stress yang menganggu keseimbangan tubuh.
ADAPTASI
Yaitu proses dimana tubuh atau individu yang utuh mengadakan perubahan untuk menanggapi stress.
B.MACAM MACAM STRESSOR
Stressor biologis
Panas, dingin, nyeri, masuknya mikroganisme, trauma fisik, kesulitan eliminasi,kekurangan makan.
Stresor psikologis
Kritik yang tidak dapat dibenarkan, kehilangan ketakutan krisis perkembangan ,krisis situasi.
3 Stressor sosial
Isolasi/diasingkan, miskin kaya perubahan tempat tinggal/bekerja, bertambahnya anggota keluarga
C. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TANGGAPAN THD STRESSOR
Setiap individu memberikan respon yang berbeda terhadap stressor yang sama.
Hal ini tergantung pada:
a.Ciri-Ciri seseorang
Ø Personality
Personality yang baik akan mudah beradaptasi.
Ø Pengalaman
Pengalaman membuat seseorang matang dalam mengambil keputusan mengatasi stres.
b.Hakekat stressor:
· Makna stressor bagi seseorang: Bila stressor tersebut bermakna dalam hidup individu tersebut ,maka responnya akan besar.
· Lingkup stressor:bila stressornya luas,maka respon akan besar.
· Lamanya stressor:bila stressor lama, maka responnya akan besar.
· Jumlah stressor:bila stressor yang ada bermacam-macam dalam waktu yang sama,maka responnya akan besar.
· Berat/ringan stressor:makin berat stressor yang dirasakan makin tinggi respon terhadap stressor
D. PANDANGAN BEBERAPA AHLI
Walter Canon (1929) menggambarkan respon psikofisiologi sebagai respon fight or flight
Wolf (1951) dalam laporan penelitiannya mengenai hubungan antara stress dan hipertensi menyatakan bahwa emosi berperan dalam peningkatan TD
Selye (1956) menggambarkan respon stress secara detail & menghasilkan pemahaman mengenai efek stress terhadap fungsi fisik. Selye mengidentifikasi tiga tahap dari respon terhadap stress, yang disebut General Adaptation Syndrome (GAS)
GENERAL ADAPTATION SYNDROME (GAS)
Reaksi Alarm
Respon ygmuncul segera terhadap stress. Reaksi peringatan ini berhubungan dengan mekanisme adrenokorticol yang menghasilkan tingkah laku respon fight or flight.
2. Tahap Resistens
Pada tahap ini terjadi resistens terhadap stresor. Tubuh beradaptasi pada tingkat fungsi yang lebih rendah dari tingkat fungsi optimum. Tahap ini membutuhkan energi yang lebih banyak untuk dapat survive.
3. Tahap Kehabisan Tenaga
Mekanisme adaptif melemah & gagal. Akibat negatif dari stressor menyebar ke seluruh organisme. Jika stressor tidak dihilangkan atau diatasi dapat menimbulkan kematian
F. PENGKAJIAN
Pengkajian yang dilakukan pada pasien dengan gangguan stress adaptasi meliputi pengkajian fisiologis, psikologis, faktor predisposisi, factor presipitasi, sumber koping maupun mekanisme koping pasien.
Ø Fisiologi
• Untuk melihat gejala fisik atau faktor yang mempengaruhi kondisi fisik
• Meliputi berbagai sistem
Kardiovaskuler : angina, hipertensi, sakit kepala
Musculoskeletal : LBP (low back pain), arthritis
pernafasan : asma, hiperventilasi
pencernaan : anoreksia, peptic ulcer,colitis, obesitas
Kulit : eczema, puritus, neurodermatitis
Genitourinari : impotensi, PMS
endokrinologi : diabetes, hipertiroid
Ø Psikologis
Pada individu mungkin terdapat gejala fisik tapi tidak ada kelainan organik (somatoform disorder). Terdiri dari:
• Somatization disorder. Banyak keluhan tentang keadaan fisik tapi tidak ditemui adanya kelainan fisik. Misal palpitasi, sakit kepala dll
• Conversion disorder, yaitu seseorang merasa kehilangan atau mengalami perubahan fungsi fisik
• Hipokondriasis. Dipenuhi oleh rasa takut bahwa dirinya menderita penyakit parah berdasar penafsiran yang salah terhadap gejala tubuh
• Kelainan dismorfik tubuh, yaitu seseorang dengan penampilan normal merasa mengalami cacat fisik
• Pain disorder, faktor psikologis mempunyai peranan penting dalam awitan maupun keparahan nyeri.
Ø Faktor Prediposisi
1. Faktor biologis
• Keseimbangan hormonal mempengaruhi emosi seseorang
• Faktor genetik
2. Faktor psikologis
• Kepribadian tipe A. Penyakit fisik bisa disertai dengan kelainan organik dan ada pula yang tanpa ada kelainan organik.
3. Faktor sosial
• Keparahan gejala dipengaruhi aspek lingkungan sosial
• Konsep peran sakit dalam lingkungan sosial. Menjadi sakit adalah peran sosial dimana masyarakat menempatkan kepercayaan & harapan pada individu.
Ø Faktor Presipitasi
• Yaitu adanya stimulus yang meningkat dari lingungan internal atau eksternal yang diterima individu yang melebihi sumber koping yang dimiliki dan membahayakan dirinya.
• Respon psikofisiologis yang muncul akibat stimulus tetsebut dipengaruhi oleh pengalaman individu dalam menginterpretasi keadaan stressful. Misal: diare menjelang ujian
• Akumulasi dari stressor kecil
Ø Sumber Koping
• Perlu dikaji kebiasaan koping pasien, support sistem dari keluarga, teman, pemberi layanan kesehatan
Ø Mekanisme Koping
Kelainan psikofisiologi dipandang sebagai upaya untuk mengatasi ansietas akibat stres yang berlebihan. Mekanisme defensif yang berkaitan a.l:
• Represi perasaan, konflik dan impuls yang tidak dapat diterima.
Dalam hal ini pengalaman yang menyakitkan, kenangan yang tidak diharapkan pikiran dan impuls yang tidak menyenangkan dikeluarkan dari kesadaran. Atau dalam arti lain represi adalah menekan semua pengalaman yang menyakitkan, kenangan yang tidak diharapkan, impuls yang tidak menyenagkan kealam tak sadar secara tidak sadar.
contoh:seorang anak yang semasa kecilnya sering mendapat perlakuan kasar ia akan melupakan semua kejadian tersebut secara tidak sadar, tetapi smeua kenangan tersebut akan terakumulasi di alam bawah sadarnya.
• Menyangkal masalah (Denial)
Mengingkari pikiran keinginan, fakta dan kesedihan yang tidak dapat ditoleransi
contoh:pasien kanker,menyatakan dokter salah diagnosa.
• Kompensasi
Proses dimana seseorang menutupi kekurangannya dengan menekan segi lain yang dianggap menjadi kelebihannya.
contoh: seorang siswa yang dalam prestasi belajarnya maka ia akan menutupinya dengan pandai bermain musik. Seorang yang sakit dan tidak mampu beraktivitas secara fisik maka dia akan berupaya memaksimalkan aktivitas yang lain misal dengan menulis.
• Regresi
Yaitu suatu mekanisme dimana saat sakit individu kembali ke tingkat perkembangan sebelumnya. Missal seorang anak yang biasanya sudah bisa mandiri dalam ADL saat sakit menjadi ngompol, selalu minta dilayani.
• Supresi
Menekan secara sadar pikiran, impuls dan perasaan yang tidak menyenang kealam tak sadar.
contoh: seorang siswa pergi menonton film bersama teman dekatnya,maka pada saat belajar dikelas dia berusaha untuk melupakan kejadian tersebut untuk lebih konsentrasi mengikuti pelajaran.
• Identifikasi
Proses dimana seseorang meniru cara berfikir dan berperilaku dari seseorang yang dikagumi
contoh: seorang anak SMA yang mengidolakan Agnes Monica meniru cara berpakaian dan model rambut seperti Agnes Monica
• Reaksi formasi
Mengembangkan pola sikap dan perilaku tertentu yang disadari berlawanan dengan perasaan dan keinginannya
contoh: seseorang marah pada temannya tapi malah bersikap baik dan meminjamkan catetan kuliah dengan sikap yang manis.
• Rasionalisasi
Berusaha memperlihatkan tingkah laku yang tampak sebagai hasil pemikiran yang logis.
contoh: tidak punya uang untuk beli kendaran, dikatakan bahwa jalan kaki lebih sehat dari pada naik kendaraan.
• Subtitusi
Mengganti obyek yang bernilai tinggi yang tidak dapat dicapai dengan obyek atau tujuan lain hampir sama walaupun nilainya lebih rendah.
Contoh: seorang anak yang menginginkan mainan kapal kapalan dengan harga yang mahal,karena dia tidak mempunyai uang untuk membelinya maka dia membeli mainan yang sejenis dengan harga yang lebih murah.
• Restitusi
Mengurangi rasa bersalah dengan tindakn pengganti
contoh: seorang koruptor memberikan sumbangan untuk menutupi rasa bersalahnya
• Displacement
Memindahkan perasaan emsionalnya dari obyek sebenarnya ke obyek pengganti. Contoh Asep marah pada teman kampusnya. Sepulang ke rumah, adiknya yang membukakan pintu langsung diomeli oleh Asep.
• Proyeksi
Menyatakan harapan, pikiran dan perasaan atau motifasi sebagai harapan, pikiran dan perasaan orang lain.
Contoh: Ali menyukai Ani, tetapi ia mengatakan pada Ani bahwa ada salam dari Ari
• Sublimasi
Memindahkan energi mental (dorongan) yang tidak dapat diterima.kepada tujuan yang dapat diterima masyarakat
contoh:orang yang suka bicara menjadi seorang presenter.
• Konversi
Pemindahan konflik mental kepada gejala fisik
contoh:takut akan menghadapi ujian-------diare
G. DIAGNOSA
Diagnosa keperawatan menggambarkan interaksi biopsikososial individu.
Model stress adaptasi dpt digunakan dlm penentuan dx kep
Dx kep mayor (menurut Stuart & Sunden)
• Gangguan penilaian
• Nyeri kronik
• Gangguan pola tidur
Adapun diagnosa medis yang berkaitan antara lain:
Gangguan somatisasi
Gangguan konversi
Hypocondriasis
Gg tbh dismorfik
Gg nyeri
Insomnia utama
Primary Hipersomnia
Narkolepsi
Gg irama sirkardian
Faktor psikologis yg mempengaruhi kondisi medis
H. PERENCANAAN
Rencana keperawatan biasanya jangka panjang.
Gangguan fisik yang muncul biasanya berhubungan dengan adanya ketidakmampuan, yang bisa jadi membahayakan kehidupan
Rencana penyuluhan pasien ditujukan untuk meningkatkan kemampuan respon psikofisiologi yang adaptif.
Rencana pendidikan pasien meliputi latihan kemampuan koping yang akan dapat meningkatkan pengetahuan pasien tentang efek stress, menurunkan cemas, meningkatkan perasaan dan tujuan serta arti hidup, menurunkan nyeri, dan meningkatkan kemampuan koping
I. IMPLEMENTASI
Melaksanakan rencana keperawatan yang telah dibuat.
Prioritas utama intervensi keperawatan adalah memenuhi kebutuhan fisiologis pasien
Prinsip dalam berhubungan dengan gangguan psikofisikal adalah dengan mengkaji tingkat stress dan tindakan untuk menurunkan stress tersebut.
Pendekatan Psikologi yang digunakan
Gejala psikologi tergantung pada pribadi dalam menghadapi cemas.
Pendekatan psikologi meliputi: supportive therapi, insight therapi, group therapi, cognitif behavioral therapi, penurunan stress, latihan relaksasi dan psikofarmakologi.
Therapi Orientasi Insight
Pengenalan perasaan pasien dan dukungan
Mengidentifikasi dan mengeksplorasi sumber pertahanan pasien
J. EVALUASI
Perawat mengevaluasi pencapaian tujuan yang telah ditetapkan dan perencanaan tindak lanjut.
Disusun dari berbagai sumber
A.PENGERTIAN
STRESS
· Reaksi individu terhadap situasi yang menimbulkan tekanan/ancaman
· Ketidakseimbangan akibat stresor
· Respon non spesifik dari tubuh terhadap tuntutan yang dilakukan tubuh
STRESSOR
Yaitu semua faktor yang menimbulkan stress yang menganggu keseimbangan tubuh.
ADAPTASI
Yaitu proses dimana tubuh atau individu yang utuh mengadakan perubahan untuk menanggapi stress.
B.MACAM MACAM STRESSOR
Stressor biologis
Panas, dingin, nyeri, masuknya mikroganisme, trauma fisik, kesulitan eliminasi,kekurangan makan.
Stresor psikologis
Kritik yang tidak dapat dibenarkan, kehilangan ketakutan krisis perkembangan ,krisis situasi.
3 Stressor sosial
Isolasi/diasingkan, miskin kaya perubahan tempat tinggal/bekerja, bertambahnya anggota keluarga
C. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TANGGAPAN THD STRESSOR
Setiap individu memberikan respon yang berbeda terhadap stressor yang sama.
Hal ini tergantung pada:
a.Ciri-Ciri seseorang
Ø Personality
Personality yang baik akan mudah beradaptasi.
Ø Pengalaman
Pengalaman membuat seseorang matang dalam mengambil keputusan mengatasi stres.
b.Hakekat stressor:
· Makna stressor bagi seseorang: Bila stressor tersebut bermakna dalam hidup individu tersebut ,maka responnya akan besar.
· Lingkup stressor:bila stressornya luas,maka respon akan besar.
· Lamanya stressor:bila stressor lama, maka responnya akan besar.
· Jumlah stressor:bila stressor yang ada bermacam-macam dalam waktu yang sama,maka responnya akan besar.
· Berat/ringan stressor:makin berat stressor yang dirasakan makin tinggi respon terhadap stressor
D. PANDANGAN BEBERAPA AHLI
Walter Canon (1929) menggambarkan respon psikofisiologi sebagai respon fight or flight
Wolf (1951) dalam laporan penelitiannya mengenai hubungan antara stress dan hipertensi menyatakan bahwa emosi berperan dalam peningkatan TD
Selye (1956) menggambarkan respon stress secara detail & menghasilkan pemahaman mengenai efek stress terhadap fungsi fisik. Selye mengidentifikasi tiga tahap dari respon terhadap stress, yang disebut General Adaptation Syndrome (GAS)
GENERAL ADAPTATION SYNDROME (GAS)
Reaksi Alarm
Respon ygmuncul segera terhadap stress. Reaksi peringatan ini berhubungan dengan mekanisme adrenokorticol yang menghasilkan tingkah laku respon fight or flight.
2. Tahap Resistens
Pada tahap ini terjadi resistens terhadap stresor. Tubuh beradaptasi pada tingkat fungsi yang lebih rendah dari tingkat fungsi optimum. Tahap ini membutuhkan energi yang lebih banyak untuk dapat survive.
3. Tahap Kehabisan Tenaga
Mekanisme adaptif melemah & gagal. Akibat negatif dari stressor menyebar ke seluruh organisme. Jika stressor tidak dihilangkan atau diatasi dapat menimbulkan kematian
F. PENGKAJIAN
Pengkajian yang dilakukan pada pasien dengan gangguan stress adaptasi meliputi pengkajian fisiologis, psikologis, faktor predisposisi, factor presipitasi, sumber koping maupun mekanisme koping pasien.
Ø Fisiologi
• Untuk melihat gejala fisik atau faktor yang mempengaruhi kondisi fisik
• Meliputi berbagai sistem
Kardiovaskuler : angina, hipertensi, sakit kepala
Musculoskeletal : LBP (low back pain), arthritis
pernafasan : asma, hiperventilasi
pencernaan : anoreksia, peptic ulcer,colitis, obesitas
Kulit : eczema, puritus, neurodermatitis
Genitourinari : impotensi, PMS
endokrinologi : diabetes, hipertiroid
Ø Psikologis
Pada individu mungkin terdapat gejala fisik tapi tidak ada kelainan organik (somatoform disorder). Terdiri dari:
• Somatization disorder. Banyak keluhan tentang keadaan fisik tapi tidak ditemui adanya kelainan fisik. Misal palpitasi, sakit kepala dll
• Conversion disorder, yaitu seseorang merasa kehilangan atau mengalami perubahan fungsi fisik
• Hipokondriasis. Dipenuhi oleh rasa takut bahwa dirinya menderita penyakit parah berdasar penafsiran yang salah terhadap gejala tubuh
• Kelainan dismorfik tubuh, yaitu seseorang dengan penampilan normal merasa mengalami cacat fisik
• Pain disorder, faktor psikologis mempunyai peranan penting dalam awitan maupun keparahan nyeri.
Ø Faktor Prediposisi
1. Faktor biologis
• Keseimbangan hormonal mempengaruhi emosi seseorang
• Faktor genetik
2. Faktor psikologis
• Kepribadian tipe A. Penyakit fisik bisa disertai dengan kelainan organik dan ada pula yang tanpa ada kelainan organik.
3. Faktor sosial
• Keparahan gejala dipengaruhi aspek lingkungan sosial
• Konsep peran sakit dalam lingkungan sosial. Menjadi sakit adalah peran sosial dimana masyarakat menempatkan kepercayaan & harapan pada individu.
Ø Faktor Presipitasi
• Yaitu adanya stimulus yang meningkat dari lingungan internal atau eksternal yang diterima individu yang melebihi sumber koping yang dimiliki dan membahayakan dirinya.
• Respon psikofisiologis yang muncul akibat stimulus tetsebut dipengaruhi oleh pengalaman individu dalam menginterpretasi keadaan stressful. Misal: diare menjelang ujian
• Akumulasi dari stressor kecil
Ø Sumber Koping
• Perlu dikaji kebiasaan koping pasien, support sistem dari keluarga, teman, pemberi layanan kesehatan
Ø Mekanisme Koping
Kelainan psikofisiologi dipandang sebagai upaya untuk mengatasi ansietas akibat stres yang berlebihan. Mekanisme defensif yang berkaitan a.l:
• Represi perasaan, konflik dan impuls yang tidak dapat diterima.
Dalam hal ini pengalaman yang menyakitkan, kenangan yang tidak diharapkan pikiran dan impuls yang tidak menyenangkan dikeluarkan dari kesadaran. Atau dalam arti lain represi adalah menekan semua pengalaman yang menyakitkan, kenangan yang tidak diharapkan, impuls yang tidak menyenagkan kealam tak sadar secara tidak sadar.
contoh:seorang anak yang semasa kecilnya sering mendapat perlakuan kasar ia akan melupakan semua kejadian tersebut secara tidak sadar, tetapi smeua kenangan tersebut akan terakumulasi di alam bawah sadarnya.
• Menyangkal masalah (Denial)
Mengingkari pikiran keinginan, fakta dan kesedihan yang tidak dapat ditoleransi
contoh:pasien kanker,menyatakan dokter salah diagnosa.
• Kompensasi
Proses dimana seseorang menutupi kekurangannya dengan menekan segi lain yang dianggap menjadi kelebihannya.
contoh: seorang siswa yang dalam prestasi belajarnya maka ia akan menutupinya dengan pandai bermain musik. Seorang yang sakit dan tidak mampu beraktivitas secara fisik maka dia akan berupaya memaksimalkan aktivitas yang lain misal dengan menulis.
• Regresi
Yaitu suatu mekanisme dimana saat sakit individu kembali ke tingkat perkembangan sebelumnya. Missal seorang anak yang biasanya sudah bisa mandiri dalam ADL saat sakit menjadi ngompol, selalu minta dilayani.
• Supresi
Menekan secara sadar pikiran, impuls dan perasaan yang tidak menyenang kealam tak sadar.
contoh: seorang siswa pergi menonton film bersama teman dekatnya,maka pada saat belajar dikelas dia berusaha untuk melupakan kejadian tersebut untuk lebih konsentrasi mengikuti pelajaran.
• Identifikasi
Proses dimana seseorang meniru cara berfikir dan berperilaku dari seseorang yang dikagumi
contoh: seorang anak SMA yang mengidolakan Agnes Monica meniru cara berpakaian dan model rambut seperti Agnes Monica
• Reaksi formasi
Mengembangkan pola sikap dan perilaku tertentu yang disadari berlawanan dengan perasaan dan keinginannya
contoh: seseorang marah pada temannya tapi malah bersikap baik dan meminjamkan catetan kuliah dengan sikap yang manis.
• Rasionalisasi
Berusaha memperlihatkan tingkah laku yang tampak sebagai hasil pemikiran yang logis.
contoh: tidak punya uang untuk beli kendaran, dikatakan bahwa jalan kaki lebih sehat dari pada naik kendaraan.
• Subtitusi
Mengganti obyek yang bernilai tinggi yang tidak dapat dicapai dengan obyek atau tujuan lain hampir sama walaupun nilainya lebih rendah.
Contoh: seorang anak yang menginginkan mainan kapal kapalan dengan harga yang mahal,karena dia tidak mempunyai uang untuk membelinya maka dia membeli mainan yang sejenis dengan harga yang lebih murah.
• Restitusi
Mengurangi rasa bersalah dengan tindakn pengganti
contoh: seorang koruptor memberikan sumbangan untuk menutupi rasa bersalahnya
• Displacement
Memindahkan perasaan emsionalnya dari obyek sebenarnya ke obyek pengganti. Contoh Asep marah pada teman kampusnya. Sepulang ke rumah, adiknya yang membukakan pintu langsung diomeli oleh Asep.
• Proyeksi
Menyatakan harapan, pikiran dan perasaan atau motifasi sebagai harapan, pikiran dan perasaan orang lain.
Contoh: Ali menyukai Ani, tetapi ia mengatakan pada Ani bahwa ada salam dari Ari
• Sublimasi
Memindahkan energi mental (dorongan) yang tidak dapat diterima.kepada tujuan yang dapat diterima masyarakat
contoh:orang yang suka bicara menjadi seorang presenter.
• Konversi
Pemindahan konflik mental kepada gejala fisik
contoh:takut akan menghadapi ujian-------diare
G. DIAGNOSA
Diagnosa keperawatan menggambarkan interaksi biopsikososial individu.
Model stress adaptasi dpt digunakan dlm penentuan dx kep
Dx kep mayor (menurut Stuart & Sunden)
• Gangguan penilaian
• Nyeri kronik
• Gangguan pola tidur
Adapun diagnosa medis yang berkaitan antara lain:
Gangguan somatisasi
Gangguan konversi
Hypocondriasis
Gg tbh dismorfik
Gg nyeri
Insomnia utama
Primary Hipersomnia
Narkolepsi
Gg irama sirkardian
Faktor psikologis yg mempengaruhi kondisi medis
H. PERENCANAAN
Rencana keperawatan biasanya jangka panjang.
Gangguan fisik yang muncul biasanya berhubungan dengan adanya ketidakmampuan, yang bisa jadi membahayakan kehidupan
Rencana penyuluhan pasien ditujukan untuk meningkatkan kemampuan respon psikofisiologi yang adaptif.
Rencana pendidikan pasien meliputi latihan kemampuan koping yang akan dapat meningkatkan pengetahuan pasien tentang efek stress, menurunkan cemas, meningkatkan perasaan dan tujuan serta arti hidup, menurunkan nyeri, dan meningkatkan kemampuan koping
I. IMPLEMENTASI
Melaksanakan rencana keperawatan yang telah dibuat.
Prioritas utama intervensi keperawatan adalah memenuhi kebutuhan fisiologis pasien
Prinsip dalam berhubungan dengan gangguan psikofisikal adalah dengan mengkaji tingkat stress dan tindakan untuk menurunkan stress tersebut.
Pendekatan Psikologi yang digunakan
Gejala psikologi tergantung pada pribadi dalam menghadapi cemas.
Pendekatan psikologi meliputi: supportive therapi, insight therapi, group therapi, cognitif behavioral therapi, penurunan stress, latihan relaksasi dan psikofarmakologi.
Therapi Orientasi Insight
Pengenalan perasaan pasien dan dukungan
Mengidentifikasi dan mengeksplorasi sumber pertahanan pasien
J. EVALUASI
Perawat mengevaluasi pencapaian tujuan yang telah ditetapkan dan perencanaan tindak lanjut.
Disusun dari berbagai sumber
Rabu, 20 Februari 2008
MENYIKAPI MARAKNYA KLINIK METHADON
MENYIKAPI MARAKNYA KLINIK METHADON
What must we do?
PENDAHULUAN
Pernah mendengar istilah “klinik methadone” ? Bagi yang pertama kali mendengar mungkin akan meyangka kalau itu adalah upaya terapi / penyembuhan untuk para pengguna narkoba agar lambat laun mereka sembuh dari ketergantungan terhadap barang haram tersebut. Tetapi ternyata klinik methadone didirikan bukan untuk tujuan tersebut. Didirikannya klinik methadon yang akhir-akhr ini marak baik di rumah sakit maupun puskesmas dimaksudkan sebagai substitusi agar para pengguna NAPZA (narkotika dan psikotropika) injeksi atau IDU (Injection Drug User) tidak lagi memakai jarum suntik sehingga diharapkan akan menurunkan angka kejangkitan HIV/AIDS pada pengguna NAPZA. Tetapi benarkah hal tersebut bisa menjadi solusi atau bahkan justru menjadi bumerang bagi generasi bangsa ini? Tulisan ini mencoba membahas berdasarkan fakta yang ada di lapangan serta apa yang seharusnya dilakukan.
.
SEKILAS MENGENAL METHADON
Metadon sendiri merupakan sintetik dari heroin yang ditemukan di Jerman pada saat perang dunia II. Pada saat itu, Metadon digunakan sebagai obat penghilang rasa sakit yang kuat. Methadon termasuk golongan analgetik (pereda nyeri) narkotik sejenis morfin. Methadone biasanya tersedia dalam bentuk tablet, cairan dan injeksi. Dalam dunia kedokteran seperti halnya morfin, methadone digunakan sebagai pereda nyeri hebat yang tidak bisa ditangani dengan obat pereda nyeri biasa. Seperti obat narkotik yang lain, methadone dapat menyebabkan pernafasan melambat setelah penggunaan jangka panjang sebagai pereda nyeri atau jika pemakaian dihentikan tiba-tiba. Oleh karena itu penggunaan methadone hanya boleh digunakan dengan pengawasan ketat dari dokter.
Berikut ini beberapa efek samping yang bisa ditimbulkan akibat penggunaan methadone:
· Nafas pendek
· Halusinasi atau konfusi
· Denyut jantung cepat , nyeri dada, masalah pernafasan,
· Kecemasan, nervouse, atau restless
· Gangguan tidur
· Kelemahan
· Mulut kering, mual muntah, diare, konstipasi, penurunan nafsu makan
· Impotensi atau kesulitan orgasme
Sejak tahun 1964, Metadon digunakan untuk pengguna heroin. Tahap ini kemudian disebut sebagai sejarah baru dimana Program Terapi Rumatan Metadon (PTRM) resmi dijadikan terapi untuk pengguna heroin. Metode ini kemudian berkembang ke Prancis, Swedia, Inggris, Belanda, Hong Kong, Australia, dan lainnya. Setelah melalui persiapan cukup lama, tahun 2003, Metadon baru resmi digunakan di Indonesia. Pada tahun tersebut, tercatat dua rumah sakit yang melakukannya, yaitu RS Ketergantungan Obat Jakarta dan RSU Sanglah Denpasar.
Tahun 2007 ini pemerintah membuka klinik methadon secara besar-besaran di beberapa wilayah di Indonesia. Untuk wilayah Jawa Barat sendiri selain Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung dalam tahun 2007 klinik methadon didirikan di lima Kabupaten, yaitu Bekasi, Bogor, Cirebon, Tasikmalaya, dan Sukabumi. Untuk wilayah Jakarta Bertepatan dengan hari AIDS Sedunia, Sabtu (1/12), Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi atau KPAP DKI Jakarta menambah tempat pelayanan pil metadon di beberapa puskesmas di Jakarta. Antara lain di Puskesmas Cengkareng di Jakarta Barat, Puskesmas Kemayoran di Jakarta Pusat, dan Puskesmas Koja di Jakarta Utara Untuk daerah Jogjakarta, klinik methadone resmi didirikan di RSUP Dr. Sardjito bertepatan dengan hari AIDs sedunia, 1 Desember 2007.
Menurut Direktur Jenderal Pemasyarakatan Depkum HAM, Untung Sugiyono, PTRM (Program Therapi Rumatan Methadon) merupakan salah satu program dari pendekatan harm reduction atau pengurangan dampak buruk penularan HIV/AIDS melalui narkotika suntik. Metadon dilakukan dengan cara diminum. Pembukaan klinik methadon yang tentu saja membutuhkan dana yang tidak sedikit ini terlaksana atas kerjasama KPAN dengan Kemitraan Australia-Indonesia dalam program Indonesia HIV/AIDS Prevention and Care Project (IHPCP).
NAPZA, HIV/AIDS dan SOLUSINYA
Ada dua jalur mengapa para pengguna NAPZA terjangkit HIV/AIDS. Yang pertama penularan melalui jarum suntik yang dipakai bersama dengan sesama IDU yang terjangkit HIV. Jalur yang kedua melalui efek NAPZA sendiri yang cenderung menyebabkan para penggunanya melakukan sex bebas. Dari kedua jalur ini pada faktanya justru jalur kedua yang paling sering terjadi. Klinik methadon dimaksudkan untuk meminimalkan penularan HIV/AIDS melalui jalur pertama saja. Sedangkan efek NAPZA sendiri yang cenderung mengarahkan pelakunya pada sex bebas malah semakin terfasilitasi dengan adanya klinik tersebut.
Ditengah gencarnya upaya pemberantasan NAPZA, pendirian klinik methadon semakin menunjukan tidak adanya kesinkronan diantara program program yang dijalankan pemerintah. Bagaimana tidak, adanya klinik methadon justru membuat para pengguna atau calon pengguna merasa aman mengkonsumsi NAPZA, yang bisa dipastikan akan menambah angka pengguna NAPZA. Hal ini bisa dilihat dari ungkapan pengguna NAPZA sendiri. Dalam harian Sinar Harapan edisi 7 januari 2008, seorang pengguna yang diwawancarai mengatakan bahwa adanya klinik methadon ini sangat memfasilitasi mereka untuk mendapatkan methadon yang efeknya bisa membuat fly sama seperti heroin. Selain harganya lebih murah daripada NAPZA yang lain juga karena dilegalkan sehingga mereka tidak harus berkejaran dengan polisi. Sehingga ada istilah ”daripada nge-fly dengan mete lebih baik nge-fly dengan metha”.
Dalam situs resmi pemerintah untuk penanggulangan NAPZA—BNN (Badan Narkotika Nasional), dikabarkan bahwa Markas Besar Kepolisian Negara Republik Indonesia (Mabes Polri) mencatat kasus narkotika adalah salah satu jenis kejahatan paling menonjol sepanjang tahun 2007. Terjadi peningkatan jumlah kasus rata-rata 30% per tahun, hingga mencapai sekitar 20.000 kasus selama tahun 2007 saja. Bagaimana nasib generasi bangsa ini di tahun-tahun mendatang dengan adanya klinik methadone? Alih-alih menangani ketergantungan NAPZA, yang dilakukan justru pelegalan NAPZA dengan dalih klinik methadone.
Dalam pandangan Islam sendiri, methadon seperti halnya NAPZA yang lain jelas haram hukumnya. Lalu apa yang harus dilakukan untuk mengatasi NAPZA dan HIV/AIDS? Syariat Islam adalah solusi tuntas untuk semuanya.
A. Saefullah MA. (dosen di Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Ulumul Qur'an, Depok) dalam thesisnya yang berjudul "Narkoba dalam Perspektif Hukum Islam dan Hukum Positif (Sebuah Studi Perbandingan)" menyebutkan ada beberapa solusi yang bisa dilakukan untuk mengatasi NAPZA:
• Upaya pencegahan bisa dilakukan melalui bimbingan agama atau dakwah, terutama oleh pihak-pihak yang terkait dengan persoalan narkoba. Upaya ini akan efektif jika dimulai dari keluarga sebagai komunitas pertama anak mengenal dunia.
• Bagi para pecandu narkoba ada beberapa terapi yang sudah dikembangkan di beberapa daerah di Indonesia, tetapi tidak menjadi program pemerintah.
1. Pertama, pesantren Suryalaya, Tasikmalaya, mengembangkan terapi Inabah, yang meliputi empat cara, yakni bersuci (mandi/berwudlu) talqin (dzikir), ibadah dan do'a, serta disiplin ternyata 93% dari sekitar 5.845 pasien yang berobat disana bisa disembuhkan dan tidak kembali kepada narkoba lagi.
2. Kedua, metode Prof. Dadang Hawari yang disebut terapi detoksifikasi, meliputi terapi medis, psikiatri, dan agama. Prinsipnya adalah berobat dan bertobat.
3. Ketiga, metode taubatan nasuha yang meliputi ilahiah, medis, psikologis dan metapsikologis. Metode metapsikologis maksudnya adalah dalam diri kita ada dua macam energi yakni energi positif dan negatif. Kalau energi positif itu diolah dengan baik, maka energi negatif bisa dikendalikan. Orang yang kecanduan narkoba itu pada hakekatnya bukan fisiknya yang sakit, tapi mentalnya karena itu, mentalnya itu pun harus disembuhkan terlebih dahulu.
• Secara hukum pemakai narkoba dicambuk 40-80 kali cambukan. Kalau sudah empat kali kasus, maka yang empat kalinya ia dihukum mati (hukum bunuh). Hal itu diriwayatkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud. Kalau pemakai saja hukumnya tegas dan berat seperti itu, apalagi produsen. Hukumnya adalah hukuman mati.
Untuk menanggulangi /mencegah penyebaran HIV/AIDS bisa dilakukan dengan beberapa cara:
• Sunat
Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan Sekretariat UNAIDS menyatakan bahwa sunat laki-laki sebaiknya dilakukan untuk mencegah infeksi HIV. Pernyataan itu didasarkan pada bukti-bukti yang diajukan oleh para ahli internasional. Penelitian di Kisumu, Kenya; Distrik Rakai, Uganda; dan Orange Farm, Afrika Selatan, menemukan bahwa sunat laki-laki mampu mengurangi risiko infeksi HIV melalui hubungan heteroseksual pada laki-laki sebesar 60%. Sunat laki-laki harus selalu dipertimbangkan sebagai bagian dari paket komprehensif pence-gahan HIV. Namun sunat laki-laki tidak memberi perlindungan menyeluruh terhadap HIV (www.aids-rspiss.com)
• Stop sex bebas dan Penyalahgunaan NAPZA
Sex bebas dan NAPZA merupakan transmisi utama penyebaran HIV/AIDS. Otomatis jika ingin menangani masalah HIV/AIDS, kedua masalah ini juga harus dituntaskan. Sex bebas bisa diberantas dengan larangan pornografi dan pornoaksi, pelarangan pelacuran, menindak tegas pelaku sex bebas dan juga memberi penyadaran agama kepada masyarakat. Adanya klinik methadon (rawat jalan) jelas tidak menyelesaikan kedua masalah ini.
• Cegah penularan melalui cairan tubuh ODHA
Upaya ini bisa dilakukan dengan mencegah campur baurnya ODHA dengan masyarakat luas. ODHA bisa ditempatkan di tempat khusus dengan tetap mendapatkan perawatan dan pemenuhan kebutuhan hidupnya. Hal ini sekaligus meminimalkan terjadinya infeksi opportunistik pada ODHA. Sedangkan ODHA yang terinfeksi karena sex bebas dia harus ditindak tegas seperti halnya hukuman untuk para pezina.
Kalau begitu apakah substitusi methadon tidak boleh dilakukan pada pengguna NAPZA?? Substitusi NAPZA dengan obat sejenis yang memiliki efek kerja jangka panjang (long acting, misal methadon, subutex), bisa saja dilakukan dengan tujuan untuk membantu pengguna NAPZA agar dapat lepas dari ketergantungan secara bertahap. Cara ini dilakukan melalui rawat inap dan pengawasan ketat dan penurunan dosis secara bertahap sampai akhirnya tidak memakai sama sekali. Terapi ini tentu saja harus dikombinasi dengan penyadaran dan pendidikan agama, agar pengguna tidak kembali lagi menggunakan NAPZA setelah berhasil disembuhkan. Wallohua’lam..
Daftar Bacaan
1. Majalah Farmacia.com 13 September 2007. Jawa Barat Akan Menambah Tempat Layanan Metadon. Tanggal akses 4 Januari 2008.
3. Oneworld.com. Therapi Rumatan Methadon di Indonesia. 6 April 2007. tanggal akses 4 Januari 2007
4. www.aids-rspiss.com
5. Lembar informasi Yayasan spiritia . 11 November 2007.
6. Bnn.go.id . 2007 Narkoba menonjol. Tanggal akses 4 Januari 2008
7. Republika. 12 Desember 2007. Narkoba Lebih dari Sekedar Khamar . A. SAEFULLAH
8. Al Islam edisi 381. HIV/AIDs, Kondomisasi dan Bahaya Sex Bebas.
9. Makalah Proposal Workshop HIV/AIDs oleh ForMI-t
What must we do?
PENDAHULUAN
Pernah mendengar istilah “klinik methadone” ? Bagi yang pertama kali mendengar mungkin akan meyangka kalau itu adalah upaya terapi / penyembuhan untuk para pengguna narkoba agar lambat laun mereka sembuh dari ketergantungan terhadap barang haram tersebut. Tetapi ternyata klinik methadone didirikan bukan untuk tujuan tersebut. Didirikannya klinik methadon yang akhir-akhr ini marak baik di rumah sakit maupun puskesmas dimaksudkan sebagai substitusi agar para pengguna NAPZA (narkotika dan psikotropika) injeksi atau IDU (Injection Drug User) tidak lagi memakai jarum suntik sehingga diharapkan akan menurunkan angka kejangkitan HIV/AIDS pada pengguna NAPZA. Tetapi benarkah hal tersebut bisa menjadi solusi atau bahkan justru menjadi bumerang bagi generasi bangsa ini? Tulisan ini mencoba membahas berdasarkan fakta yang ada di lapangan serta apa yang seharusnya dilakukan.
.
SEKILAS MENGENAL METHADON
Metadon sendiri merupakan sintetik dari heroin yang ditemukan di Jerman pada saat perang dunia II. Pada saat itu, Metadon digunakan sebagai obat penghilang rasa sakit yang kuat. Methadon termasuk golongan analgetik (pereda nyeri) narkotik sejenis morfin. Methadone biasanya tersedia dalam bentuk tablet, cairan dan injeksi. Dalam dunia kedokteran seperti halnya morfin, methadone digunakan sebagai pereda nyeri hebat yang tidak bisa ditangani dengan obat pereda nyeri biasa. Seperti obat narkotik yang lain, methadone dapat menyebabkan pernafasan melambat setelah penggunaan jangka panjang sebagai pereda nyeri atau jika pemakaian dihentikan tiba-tiba. Oleh karena itu penggunaan methadone hanya boleh digunakan dengan pengawasan ketat dari dokter.
Berikut ini beberapa efek samping yang bisa ditimbulkan akibat penggunaan methadone:
· Nafas pendek
· Halusinasi atau konfusi
· Denyut jantung cepat , nyeri dada, masalah pernafasan,
· Kecemasan, nervouse, atau restless
· Gangguan tidur
· Kelemahan
· Mulut kering, mual muntah, diare, konstipasi, penurunan nafsu makan
· Impotensi atau kesulitan orgasme
Sejak tahun 1964, Metadon digunakan untuk pengguna heroin. Tahap ini kemudian disebut sebagai sejarah baru dimana Program Terapi Rumatan Metadon (PTRM) resmi dijadikan terapi untuk pengguna heroin. Metode ini kemudian berkembang ke Prancis, Swedia, Inggris, Belanda, Hong Kong, Australia, dan lainnya. Setelah melalui persiapan cukup lama, tahun 2003, Metadon baru resmi digunakan di Indonesia. Pada tahun tersebut, tercatat dua rumah sakit yang melakukannya, yaitu RS Ketergantungan Obat Jakarta dan RSU Sanglah Denpasar.
Tahun 2007 ini pemerintah membuka klinik methadon secara besar-besaran di beberapa wilayah di Indonesia. Untuk wilayah Jawa Barat sendiri selain Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung dalam tahun 2007 klinik methadon didirikan di lima Kabupaten, yaitu Bekasi, Bogor, Cirebon, Tasikmalaya, dan Sukabumi. Untuk wilayah Jakarta Bertepatan dengan hari AIDS Sedunia, Sabtu (1/12), Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi atau KPAP DKI Jakarta menambah tempat pelayanan pil metadon di beberapa puskesmas di Jakarta. Antara lain di Puskesmas Cengkareng di Jakarta Barat, Puskesmas Kemayoran di Jakarta Pusat, dan Puskesmas Koja di Jakarta Utara Untuk daerah Jogjakarta, klinik methadone resmi didirikan di RSUP Dr. Sardjito bertepatan dengan hari AIDs sedunia, 1 Desember 2007.
Menurut Direktur Jenderal Pemasyarakatan Depkum HAM, Untung Sugiyono, PTRM (Program Therapi Rumatan Methadon) merupakan salah satu program dari pendekatan harm reduction atau pengurangan dampak buruk penularan HIV/AIDS melalui narkotika suntik. Metadon dilakukan dengan cara diminum. Pembukaan klinik methadon yang tentu saja membutuhkan dana yang tidak sedikit ini terlaksana atas kerjasama KPAN dengan Kemitraan Australia-Indonesia dalam program Indonesia HIV/AIDS Prevention and Care Project (IHPCP).
NAPZA, HIV/AIDS dan SOLUSINYA
Ada dua jalur mengapa para pengguna NAPZA terjangkit HIV/AIDS. Yang pertama penularan melalui jarum suntik yang dipakai bersama dengan sesama IDU yang terjangkit HIV. Jalur yang kedua melalui efek NAPZA sendiri yang cenderung menyebabkan para penggunanya melakukan sex bebas. Dari kedua jalur ini pada faktanya justru jalur kedua yang paling sering terjadi. Klinik methadon dimaksudkan untuk meminimalkan penularan HIV/AIDS melalui jalur pertama saja. Sedangkan efek NAPZA sendiri yang cenderung mengarahkan pelakunya pada sex bebas malah semakin terfasilitasi dengan adanya klinik tersebut.
Ditengah gencarnya upaya pemberantasan NAPZA, pendirian klinik methadon semakin menunjukan tidak adanya kesinkronan diantara program program yang dijalankan pemerintah. Bagaimana tidak, adanya klinik methadon justru membuat para pengguna atau calon pengguna merasa aman mengkonsumsi NAPZA, yang bisa dipastikan akan menambah angka pengguna NAPZA. Hal ini bisa dilihat dari ungkapan pengguna NAPZA sendiri. Dalam harian Sinar Harapan edisi 7 januari 2008, seorang pengguna yang diwawancarai mengatakan bahwa adanya klinik methadon ini sangat memfasilitasi mereka untuk mendapatkan methadon yang efeknya bisa membuat fly sama seperti heroin. Selain harganya lebih murah daripada NAPZA yang lain juga karena dilegalkan sehingga mereka tidak harus berkejaran dengan polisi. Sehingga ada istilah ”daripada nge-fly dengan mete lebih baik nge-fly dengan metha”.
Dalam situs resmi pemerintah untuk penanggulangan NAPZA—BNN (Badan Narkotika Nasional), dikabarkan bahwa Markas Besar Kepolisian Negara Republik Indonesia (Mabes Polri) mencatat kasus narkotika adalah salah satu jenis kejahatan paling menonjol sepanjang tahun 2007. Terjadi peningkatan jumlah kasus rata-rata 30% per tahun, hingga mencapai sekitar 20.000 kasus selama tahun 2007 saja. Bagaimana nasib generasi bangsa ini di tahun-tahun mendatang dengan adanya klinik methadone? Alih-alih menangani ketergantungan NAPZA, yang dilakukan justru pelegalan NAPZA dengan dalih klinik methadone.
Dalam pandangan Islam sendiri, methadon seperti halnya NAPZA yang lain jelas haram hukumnya. Lalu apa yang harus dilakukan untuk mengatasi NAPZA dan HIV/AIDS? Syariat Islam adalah solusi tuntas untuk semuanya.
A. Saefullah MA. (dosen di Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Ulumul Qur'an, Depok) dalam thesisnya yang berjudul "Narkoba dalam Perspektif Hukum Islam dan Hukum Positif (Sebuah Studi Perbandingan)" menyebutkan ada beberapa solusi yang bisa dilakukan untuk mengatasi NAPZA:
• Upaya pencegahan bisa dilakukan melalui bimbingan agama atau dakwah, terutama oleh pihak-pihak yang terkait dengan persoalan narkoba. Upaya ini akan efektif jika dimulai dari keluarga sebagai komunitas pertama anak mengenal dunia.
• Bagi para pecandu narkoba ada beberapa terapi yang sudah dikembangkan di beberapa daerah di Indonesia, tetapi tidak menjadi program pemerintah.
1. Pertama, pesantren Suryalaya, Tasikmalaya, mengembangkan terapi Inabah, yang meliputi empat cara, yakni bersuci (mandi/berwudlu) talqin (dzikir), ibadah dan do'a, serta disiplin ternyata 93% dari sekitar 5.845 pasien yang berobat disana bisa disembuhkan dan tidak kembali kepada narkoba lagi.
2. Kedua, metode Prof. Dadang Hawari yang disebut terapi detoksifikasi, meliputi terapi medis, psikiatri, dan agama. Prinsipnya adalah berobat dan bertobat.
3. Ketiga, metode taubatan nasuha yang meliputi ilahiah, medis, psikologis dan metapsikologis. Metode metapsikologis maksudnya adalah dalam diri kita ada dua macam energi yakni energi positif dan negatif. Kalau energi positif itu diolah dengan baik, maka energi negatif bisa dikendalikan. Orang yang kecanduan narkoba itu pada hakekatnya bukan fisiknya yang sakit, tapi mentalnya karena itu, mentalnya itu pun harus disembuhkan terlebih dahulu.
• Secara hukum pemakai narkoba dicambuk 40-80 kali cambukan. Kalau sudah empat kali kasus, maka yang empat kalinya ia dihukum mati (hukum bunuh). Hal itu diriwayatkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud. Kalau pemakai saja hukumnya tegas dan berat seperti itu, apalagi produsen. Hukumnya adalah hukuman mati.
Untuk menanggulangi /mencegah penyebaran HIV/AIDS bisa dilakukan dengan beberapa cara:
• Sunat
Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan Sekretariat UNAIDS menyatakan bahwa sunat laki-laki sebaiknya dilakukan untuk mencegah infeksi HIV. Pernyataan itu didasarkan pada bukti-bukti yang diajukan oleh para ahli internasional. Penelitian di Kisumu, Kenya; Distrik Rakai, Uganda; dan Orange Farm, Afrika Selatan, menemukan bahwa sunat laki-laki mampu mengurangi risiko infeksi HIV melalui hubungan heteroseksual pada laki-laki sebesar 60%. Sunat laki-laki harus selalu dipertimbangkan sebagai bagian dari paket komprehensif pence-gahan HIV. Namun sunat laki-laki tidak memberi perlindungan menyeluruh terhadap HIV (www.aids-rspiss.com)
• Stop sex bebas dan Penyalahgunaan NAPZA
Sex bebas dan NAPZA merupakan transmisi utama penyebaran HIV/AIDS. Otomatis jika ingin menangani masalah HIV/AIDS, kedua masalah ini juga harus dituntaskan. Sex bebas bisa diberantas dengan larangan pornografi dan pornoaksi, pelarangan pelacuran, menindak tegas pelaku sex bebas dan juga memberi penyadaran agama kepada masyarakat. Adanya klinik methadon (rawat jalan) jelas tidak menyelesaikan kedua masalah ini.
• Cegah penularan melalui cairan tubuh ODHA
Upaya ini bisa dilakukan dengan mencegah campur baurnya ODHA dengan masyarakat luas. ODHA bisa ditempatkan di tempat khusus dengan tetap mendapatkan perawatan dan pemenuhan kebutuhan hidupnya. Hal ini sekaligus meminimalkan terjadinya infeksi opportunistik pada ODHA. Sedangkan ODHA yang terinfeksi karena sex bebas dia harus ditindak tegas seperti halnya hukuman untuk para pezina.
Kalau begitu apakah substitusi methadon tidak boleh dilakukan pada pengguna NAPZA?? Substitusi NAPZA dengan obat sejenis yang memiliki efek kerja jangka panjang (long acting, misal methadon, subutex), bisa saja dilakukan dengan tujuan untuk membantu pengguna NAPZA agar dapat lepas dari ketergantungan secara bertahap. Cara ini dilakukan melalui rawat inap dan pengawasan ketat dan penurunan dosis secara bertahap sampai akhirnya tidak memakai sama sekali. Terapi ini tentu saja harus dikombinasi dengan penyadaran dan pendidikan agama, agar pengguna tidak kembali lagi menggunakan NAPZA setelah berhasil disembuhkan. Wallohua’lam..
Daftar Bacaan
1. Majalah Farmacia.com 13 September 2007. Jawa Barat Akan Menambah Tempat Layanan Metadon. Tanggal akses 4 Januari 2008.
3. Oneworld.com. Therapi Rumatan Methadon di Indonesia. 6 April 2007. tanggal akses 4 Januari 2007
4. www.aids-rspiss.com
5. Lembar informasi Yayasan spiritia . 11 November 2007.
6. Bnn.go.id . 2007 Narkoba menonjol. Tanggal akses 4 Januari 2008
7. Republika. 12 Desember 2007. Narkoba Lebih dari Sekedar Khamar . A. SAEFULLAH
8. Al Islam edisi 381. HIV/AIDs, Kondomisasi dan Bahaya Sex Bebas.
9. Makalah Proposal Workshop HIV/AIDs oleh ForMI-t
Langganan:
Postingan (Atom)